Sejak ditemukan batu Nisan Cina Kuno di selokan bangunan bioskop Apollo Cilegon, saya jadi sangat peduli dengan cerita apapun tentang bangunan-bangunan sekitar Rumah Dinas Walikota Cilegon saat ini. Tergambar bangunan-bangunan kekinian itu berdiri di atas reruntuhan bangunan-bangunan lama era Hindia Belanda, sezaman dengan Rumah Dinas Walikota saat ini, sebagai bekas Kantor Asisten Residen di zaman Hindia Belanda.
Pikiran menerawang jauh mencari keberadaan penjara, sekolah, kantor pos, rumah pejabat Hindia Belanda, alun-alun, kantor pajak, rumah jaksa, mesigit (masjid), rumah patih, pasar cina dan seterusnya. Semuanya nyaris hilang dari pandangan mata. Yang nampak pertokoan, hotel, bank dan sekolah. Tapi rasa penasaran membawa kami masuk ke gang-gang sempit Jombang Wetan, tidak jarang terhenti sekedar untuk mengambil gambar di mana kami ācurigaiā sebagai tempat yang kami cari. Atau melihat reruntuhan bangunan yang kami anggap ādari segi bahan bangunan, sebagai bangunan masa lampau.
Perjalanan kami sebelumnya hanya berbekal cerita atau tradisi lisan masyarakat: bahwa di lokasi Bioskop Apollo dan sekitarnya, dulunya adalah pemakaman Belanda (atau Eropa), lalu di lapangan kami malah menemukan nisan Cina berangka 1917. Tapi kali ini, selain tetap āmemegangā tradisi lisan masyarakat, Ā kami berpegang pada sebuah peta yang dimunculkan oleh saudara Muthakin dalam tulisan di Galijati.id berjudul: Kerkhof di Cilegon berdasarkan Catatan Pers Kolonial Belanda. (May, 14, 2025). Peta yang ditampilkan itu berjudul: TERREIN Ā VAN HET BLOEDBAD TE TJILEGON op 9 JULI 1888. Artinya, Ā TEMPAT PERTUMPAHAN DARAH DI TJILEGON pada 9 JULI 1888. Peta sendiri diambil dari surat kabar Belanda tahun 1903 yang sedang mengulas peristiwa Geger Cilegon.
Tulisan ini tidak dalam rangka membicarakan Geger Cilegon 1888 sebagai peristiwa, tetapi sedang membaca peta peristiwa sebagai informasi lokasi tempat dan fungsinya di masa lalu, kemudian menariknya ke masa sekarang: di mana dan menjadi apa sekarang?
Berdasarkan dua sumber tersebut, kami menyusuri jalan sebelah timur Kantor Walikota Cilegon. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat bahwa bangunan yang sekarang adalah Hotel Cilegon, sebelumnya adalah bangunan lama. Dalam peta TERREIN Ā VAN HET BLOEDBAD TE TJILEGON op 9 JULI 1888, saya membaca yang letaknya mendekati keberadaan Hotel Cilegon, adalah Huis Assist ā Resident (Rumah Asisten Residen). Harus saya jelaskan di sini, bahwa dalam peta tersebut, berbeda antara Kantor Asisten Residen dengan Rumah Asisten Residen. Kantor Asisten Residen, yang sekarang menjadi Rumah Dinas Walikota, sedangkan Rumah Asisten Residen , yang sekarang saya duga sebagai Hotel Cilegon, atau sekitarnya.
Mata telanjang saya belum membenarkan informasi ini. Peta menunjukkan Rumah Asisten Residen lebih ke belakang, ānyampingā ke timur. Sedang pandangan darat, ketika saya berdiri di trotoar jalan raya, letak Hotel Cilegon persis sejajar di samping Rumah Dinas Walikota. Sempat terpikir, apakah ada perubahan letak antar keduanya. Ternyata setelah saya membuka aplikasi Google Maps, saya menemukan letak yang masih persis sama dengan peta yang dibuat Belanda awal abada ke-20 itu. Artinya antara informasi ingatan kolektif masyarakat dengan versi peta sesuai: baik peta Belanda tentang peristiwa Geger Cilegon yang kami pegang maupun peta online: google maps.
Kami sempat menjelajahi perkampungan di belakang Rumah Dinas Walikota, masuk ke gang-gang sempit yang tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, melangkahi solokan-solokan yang tidak terawat, menyusuri teritis yang ādempetā. Di sana kami menemukan banyak puing-puing bangunan tua yang tertindih bangunan baru. Masih kami temukan yang masih berdiri, tapi tidak utuh: tidak beratap, sebagian temboknya runtuh. Yang pasti bangunan ini tidak dihuni. Tapi pasti ada pemiliknya, karena pintu-jendala ditutup dan dipagari untuk pengamanan, mungkin dari penyalahgunaan ruang-ruang kosong yang ditumbuhi semak belukar.
Lebih lanjut kami mengamati: bahan yang digunakan rumah-rumah tua itu adalah batu bata merah berukuran lebih besar dari yang biasa sekarang; pemasangannya lapis dua dengan adukan tanah. Di sudut bangunan dibuat lebih besar lagi menyerupai pilar.
Begitupun pemandangan yang kami dapat di Kampung Gudang. Banyak reruntuhan rumah tua, puing-puing batu merah besar tidak sulit kita temukan. Ada juga beberapa yang masih berdiri kokoh, namun sudah dipadukan dengan bahan-bahan sekarang, bangunannya sudah dirubah mungkin sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pemilik.
Kembali ke peta Belanda yang kami pegang, memang di pemukiman yang kami tapaki sore itu, terutama lokasi Kampung Gudang, tertulis āKamp.ā Dari banyaknya reruntuhan yang kami temukan di lapangan itu artinya kampung. Sementara di sebrang jalan raya, arah selatan jalan, terulis āsawahā. Artinya istilah āKamp.ā dan āsawahā ini digunakan untuk membedakan atau memetakan antara daerah perkampungan dengan daerah pesawahan.
Nampaknya memang sebelah utara lebih awal dikembangkan dan padat aktivitas pada masa itu. Selain perkantoran, rumah pejabat, pemukiman masyarakat, nampak dalam peta tersebut āChineesche Passarā (Pasar Cina). Letaknya di sebelah barat Kampung Gudang, sebelah timur Rumah Dinas Walikota: tepatnya di sekitaran pertokoan emas dan Plaza Cilegon Mandiri atau Matahari Lama sekarang.