Bebitrik: Literasi Finansial Kearifan Lokal Masyarakat Cilegon

Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi ekonomi, masyarakat Cilegon kini dihadapkan pada realitas kehidupan finansial yang semakin kompleks. Fenomena kredit konsumtif, utang dengan bunga tinggi, serta gaya hidup instan telah menjadi bagian dari keseharian banyak warga.

Tidak sedikit masyarakat yang terjerat dalam skema pinjaman daring (pinjol), cicilan barang elektronik, atau pembiayaan kendaraan tanpa perhitungan matang. Akibatnya, bukan hanya beban ekonomi yang menumpuk, tetapi juga tekanan psikologis dan ketidakstabilan rumah tangga yang muncul sebagai dampaknya.

Padahal, di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan sistem keuangan digital, masih tersimpan mutiara kearifan lokal yang menunjukkan betapa pengetahuan tradisional sebenarnya telah memiliki pemahaman literasi finansial jauh sebelum istilah itu menjadi populer. Salah satu bentuk kearifan tersebut dapat kita temukan dalam konsep bebitrik yang hidup di tengah masyarakat Cilegon, Banten.

Bebitrik bukan sekadar sebuah istilah dalam bahasa Jawa Cilegon, tetapi mencerminkan cara berpikir dan bertindak masyarakat dalam meraih tujuan hidupnya secara perlahan, terencana, dan penuh kesabaran.

Dalam pengertian paling dasarnya, bebitrik adalah upaya mencapai suatu tujuan dengan cara mengumpulkan atau mengusahakan sesuatu yang bisa membantu tercapainya tujuan tersebut, secara bertahap dan berkesinambungan.

Kata ini mungkin asing bagi telinga generasi muda hari ini, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya justru sangat relevan dengan prinsip-prinsip manajemen keuangan modern: perencanaan, konsistensi, dan orientasi jangka panjang.

Sebagai contoh, ketika seseorang memiliki cita-cita memiliki rumah sendiri, masyarakat Cilegon tempo dulu tidak serta-merta menunggu memiliki uang dalam jumlah besar untuk langsung membangunnya.

Sebaliknya, mereka memulai dengan apa yang ada. Mereka mulai bebitrik dengan membuat batu bata sendiri, mengumpulkan batu-batu besar untuk fondasi, atau mulai menanam kayu untuk kelak bisa digunakan sebagai bahan bangunan. Setiap tindakan kecil ini adalah bagian dari proses panjang yang terencana dan memiliki arah yang jelas.

Konsep ini berbeda secara mendasar dengan menabung dalam pengertian umum. Menabung sering kali dimaknai sebagai menyisihkan sebagian uang tanpa tujuan yang spesifik, sebagai cadangan atau jaga-jaga.

Bebitrik, di sisi lain, merupakan tindakan sadar dan terarah. Setiap langkah yang diambil dalam bebitrik selalu mengarah kepada satu tujuan tertentu yang sudah ditetapkan sejak awal secara bertahap, dikit demi sedikit, dimulai dari sisi kemampuan individu, yang terpenting adalah adanya progres.

Inilah bagi saya, yang menjadikan bebitrik lebih dari sekadar aktivitas keuangan—bebitrik sebagai sebuah filosofi hidup yang menanamkan nilai tekun, sabar, dan berpikir jangka panjang. Mudahnya, dengan bebitrik, seseorang akan berani memulai meraih tujuan, menyadari kemampuan diri, mulai melangkah semapunya dengan sabar sampai akhirnya tercapai.

Dalam perspektif literasi finansial modern, konsep bebitrik sejalan dengan teori goal-setting dalam perencanaan keuangan pribadi, yang dikemukakan oleh Edwin A. Locke dan Gary P. Latham. Mereka menegaskan bahwa tujuan yang spesifik dan menantang, jika dipadukan dengan komitmen dan upaya bertahap, akan mendorong pencapaian yang lebih tinggi. Bebitrik mencerminkan hal ini secara lokal—ia adalah bentuk konkret dari goal-oriented behavior yang telah tumbuh secara organik dalam budaya masyarakat Cilegon.

Richard Thaler, peraih Nobel di bidang ekonomi perilaku, juga menyoroti konsep mental accounting, bagaimana individu mengelola keuangan berdasarkan cara-cara yang secara pribadi bermakna. Bebitrik dapat dipahami sebagai wujud mental accounting tradisional yang sangat kontekstual: setiap batu bata yang dikumpulkan, setiap alat yang disimpan, setiap progres yang kita buat memiliki tujuan jelas sebagai bagian dari mimpi yang dirangkai dengan kesabaran.

Dengan demikian, menghidupkan kembali semangat bebitrik bukan hanya bentuk pelestarian budaya, tetapi juga langkah strategis dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat dari bawah.

Namun, realitas sosial masyarakat Cilegon saat ini menunjukkan adanya pergeseran nilai. Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup, gaya hidup konsumtif, serta kemudahan akses terhadap produk keuangan seperti pinjaman online, kredit konsumtif, hingga cicilan barang elektronik, banyak masyarakat justru terjebak dalam lingkaran utang yang sulit dikendalikan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga merambah masyarakat urban dan semi-urban seperti Cilegon, terutama di kalangan masyarakat pekerja industri dan kelas menengah.

Tak sedikit yang mengambil pinjaman tanpa perencanaan matang, sekadar untuk memenuhi gaya hidup atau menutupi kebutuhan sesaat. Akibatnya, utang menumpuk dan beban bunga mencekik penghasilan bulanan. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya menghancurkan kondisi keuangan keluarga, tetapi juga berdampak pada tekanan psikologis, konflik rumah tangga, hingga putusnya hubungan sosial di masyarakat.

Dalam konteks inilah, kearifan lokal bebitrik menawarkan alternatif pendekatan yang sangat relevan dan menyelamatkan. Bebitrik mengajarkan masyarakat untuk menunda kepuasan sesaat demi tujuan jangka panjang yang lebih besar.

Selain itu, dari bebitrik kita diajarkan bahwa tidak harus memiliki segalanya sekarang juga, bahwa setiap hal besar bisa dimulai dari yang kecil dan dari yang kita bisa atau yang kita miliki hari ini. Filosofi ini seharusnya bisa menjadi benteng moral dan budaya terhadap godaan instan yang ditawarkan sistem kredit konsumtif.

Saya melihat, jika masyarakat kembali menerapkan filosofi hidup khas orang tua duluĀ  seperti nilai-nilai bebitrik ini dalam kehidupan sehari-hari, mereka akan lebih terbiasa merancang tujuan keuangan secara sadar. Mereka akan memahami pentingnya akumulasi, perencanaan, dan usaha bertahap dalam mencapai sesuatu, tanpa tergantung pada pinjaman yang justru sering menjebak.

Bahkan dalam konteks ekonomi keluarga, bebitrik bisa dijadikan dasar dalam pengelolaan keuangan rumah tangga: mulai dari resepsi pernikahan, pengadaan perabot rumah, biaya pendidikan anak, hingga dana pensiun.

Saya memahami bebitrik juga membentuk kesadaran kolektif dalam masyarakat bahwa keberhasilan tidak harus diraih dengan jalan pintas. Masyarakat yang bebitrik adalah masyarakat yang mandiri secara ekonomi, percaya pada proses, kesadaran diri sendiri, dan tidak mudah tergoda pada janji-janji instan.

Dengan mengangkat kembali konsep bebitrik, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membangun jembatan antara kearifan lokal dan literasi finansial modern. Di era yang menuntut segala serba cepat, melalui bebitrik kita diajak untuk kembali pada kesadaran bahwa setiap langkah kecil yang terarah adalah kunci menuju impian besar yang nyata—tanpa perlu terjebak dalam jerat utang yang menyesakkan.

Bebitrik mengajarkan kita bahwa keberhasilan tidak selalu milik mereka yang melaju cepat, tapi milik mereka yang tahu ke mana arah langkahnya dan setia menapakinya, sedikit demi sedikit, hari demi hari

Sebagaimana pepatah wong tua mengatakan:
ā€œAlon-alon asal kelakonā€ – pelan-pelan asal tercapai.

Berikan Komentarmu!