Siang setelah Jum’atan (09/05/2025), kami tim Galijati.id, Ayatulloh Marsai, Indra Kesuma, Okem, menelusuri gedung-gedung sekitar Rumah Dinas Walikota Cilegon (Rumdin). Sebagai bangunan warisan Kolonial Belanda yang berfungsi sebagai rumah tinggal sekaligus kantor Kerajaan Belanda perwakilan tingkat kewedanaan (Onderafdelling) saat itu. Rumdin itu pastilah dikelilingi oleh bangunan-bangunan penting sebagai pendukung keberlangsungan sebuah pemerintahan kolonial kala itu. Misalnya, kantor pos, sekolah, penjara, alun-alun, stasiun kereta api, rumah ibadah dan bahkan pemakaman.
Setelah mengambil gambar dari beberapa sudut Rumah Dinas Walikota Cilegon, termasuk kamar-kamar yang ada di bagian belakang, kami melanjutkan langkah ke sebuah bangunan yang dalam ingatan saya sebagai gedung bioskop tertua di Cilegon, yaitu Apollo. Bangunan ini sekarang sudah tidak dipakai lagi sebagai gedung bioskop, sepertinya kosong. Dalam bahasa Cilegon suwung. Keadaannya sudah rusak, tapi halamannya bersih seperti ada yang rutin merawatnya setiap hari. Kami tidak bisa masuk ke dalam karena dipagar dan terkunci. Kami hanya bisa mengamati dan mengambil gambar dari luar.
Tapi kami memang punya perhatian khusus terhadap gedung ini karena tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, gedung ini dibangun di atas pemakaman Belanda, siapa tahu kami menemukan jejak-jejak itu di sana. Sehingga kami tidak merasa cukup mengamati dari depan, kami berniat mengelilingi gedung ini, tapi apalah daya hanya ada satu gang yang bisa kami akses. Itu pun buntu tertutup oleh pemukiman warga.
Nah, di gang inilah kejutannya, secara tidak sengaja salah satu dari kami, Indra Kesuma, melihat tulisan di sebuah batu penutup solokan. Aksaranya Cina (Tionghoa). Kami menajamkan mata, berusaha membaca. Dari sekian tulisan yang ada, antara yang jelas dan yang buram, kami hanya bisa membaca dan mengerti angka tahun yang tertulis di sana: 1917. Itu pun, kami tidak bisa memastikan tahun dalam tradisi bangsa mana. Masehikah atau Cina?
Kami mengambil gambar dan berniat memberitakannya nanti. Berharap terdokumentasikan, kemudian beritanya tersebar kepada masyarakat sebagai edukasi sejarah dan kebudayaan Cilegon; kepada Pemerintah Kota Cilegon, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon dan komunitas-komunitas pecinta sejarah untuk ditindaklanjuti penyelamatan maupun dasar kebijakan menyikapi bangunan-bangunan di sekitar Rumah Dinas Walikota Cilegon. Karena dari sekian bangunan yang mungkin ada di sekitar Rumdin sebagai bangunan bersejarah, tinggal beberapa dan itupun sudah mengalami perubahan bentuk dan fungsi.
Kami beranjak ke warung kopi dan ngobrol reflektif di sana. Menemukan sebuah pemahaman bahwa masyarakat Cilegon adalah masyarakat yang memiliki toleransi beragama yang tinggi. Jejak sejarah yang kami temukan sebagai makam Belanda (kerkhof) dalam tradisi lisan, dan di lapangan kami menemukan nisan orang Cina, itu letaknya tidak jauh bahkan nyaris di depan Masjid Agung Cilegon yang juga merupakan bangunan abad ke-19.