Tradisi Yalil, Bukti Sakralnya Pernikahan Masyarakat Cilegon

Manusia dan terbentuknya masyarakat hadir terlebih dahulu ketimbang agama-agama yang dibawa oleh para nabi. Di satu sisi, agama hadir untuk menghapus dan mengganti peran budaya dan tradisi yang tidak sesuai. Namun di sisi yang lain, agama menjadikan budaya dan tradisi sebagai bagian dari ajaran agama.

Dalam konteks penyebaran Islam di Indonesia, Wali Sanga menjadikan budaya dan tradisi sebagai bagian dakwah Islam kepada masyarakat, yakni dengan mengakomodasi tradisi lokal, sehingga membuat Islam lebih mudah dan cepat diterima masyarakat.

Proses Islamisasi tersebut menjamah hampir seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Banten. Koentjaraningrat mengungkapkan terkait adanya anggapan bahwa fokus kebudayaan masyarakat Banten adalah religi, sehingga masyarakat Banten diidentikan sebagai masyarakat religius.

Dalam faktanya, kegiatan religi mendominasi pada sebagian besar kehidupan masyarakat Banten, alhasil upacara-upacara yang dilakukan selalu terkait dengan unsur religi. Misalnya dalam upacara pernikahan di Kota Cilegon yang di dalam prosesnya banyak sekali tradisi-tradisi yang sampai sekarang masih dijalankan, diantaranya adalah tradisi yalil.

Yalil: Membuka Pintu untuk Sang Pengantin Laki-laki
Secara historis, tradisi yalil merupakan salah satu tradisi yang dilakukan pada prosesi pernikahan masyarakat Cilegon. Tradisi yang sudah dilakukan sejak masa Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin ini juga dikenal dengan istilah tradisi buka pintu, hal ini dikarenakan tradisi ini merupakan simbol awal dibukanya pintu rumah pengantin perempuan untuk pengantin laki-laki.

Tradisi ini juga disebut dengan ya lail yang berarti ‘wahai malam’, karena dulu tradisi ini dilaksanakan pada malam hari, yakni setelah prosesi penjemputan pengantin laki-laki di rumahnya -jika sang pengantin laki-kali sekampung atau tetangga kampung.

Dahulu, menemukan jodoh begitu mudah, sebagian besar orang yang sekampung atau tetangga kampung bisa berjodoh. Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya; lingkungan, adat, kebutuhan hidup, mobilitas dan telekomunikasi yang terbatas.

Namun, jika kebetulan pengantin laki-laki orang jauh -pada prosesi penjemputan tersebut, maka sang pengantin laki-laki akan ditempatkan ke rumah saudara yang rumahnya masih dapat dijangkau. Dalam prosesnya, pengantin perempuan akan diposisikan pada barisan yang paling depan, kemudian dikuti oleh segenap sanak saudara dan diakhiri oleh rombongan rudat sebagai peramai dan pelengkap tradisi.

Sesampainya iring-iringan di kediaman yang dituju, kemudian pengantin laki-laki pun ikut rombongan sembari kedua pengantin saling bergandeng tangan menuju ke rumah pengantin perempuan -tempat resepsi. Di tengah-tengah perjalanan, kedua pengantin akan diberhentikan dan duduk bersama beberapa para tokoh masyarakat/tokoh agama untuk dipanjatkan doa dan diakhiri dengan saweran. Pada tahap ini, saweran dimaknai sebagai simbol keberkahan, kemakmuran dan keharmonisan rumah tangga.

Iring-iringan pun dilanjutkan, dan sampailah di kediaman mempelai perempuan. Pengantin perempuan masuk ke dalam rumahnya dan duduk tepat di depan pintu masuk, sedangkan pengantin laki-laki duduk diluar rumah menghadap pengantin perempuan, namun disekat oleh kain sebagai pemisah diantara keduanya.

Setelahnya, tradisi yalil mulai dilaksanakan dengan bacaan-bacaan Yalil yang dilantunkan oleh sang pelantun yang disebut dengan fakih sejumlah maksimal 8 orang. Tradisi yalil diawali dengan bacaan selawat Nabi yang disebut dengan tahrim. Setelahnya, dilanjutkan salam dan pembacaan ‘Yalil’ secara berurutan, mulai dari lagu sikah, dilanjut dengan lagu hijaz sebanyak dua tarikan, kemudian dengan lagu bayyati jawab, dan diakhiri dengan sikah/jawabul jawab.

Tahapan lagu-lagu tersebut diulangi dua hingga tiga kali, dan setelahnya, Yalil diakhiri dengan membaca selawat berjamaan -termasuk para tamu yang hadir saat bacaan Yalil. Setelah bacaan selawat selesai, kemudian kain pemisah di antara kedua mempelai dibuka, dan akhirnya kedua pengantin dipersilahkan bertemu.

Dalam perkembangannya, beberapa tahun ke belakang tradisi yalil dilaksanakan pada pagi hari, yakni setelah prosesi akad nikah. Jika kedua mempelai melangsungkan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA), maka tahapan prosesi tradisi yalil sama seperti yang dilakukan dimalam hari. Yang menjadi pembeda adalah masalah waktu, yakni siang dan tempat biasanya di atas pelaminan atau dimana saja asalkan tidak mengurangi kekhidmatan tradisi ini.

Namun, jika akad nikah dilaksanakan di masjid, di rumah atau di tempat resepsi acara pernikahan, maka tradisi yalil akan dilaksanakan tepat setelah akad nikah, jadi prosesi akad nikah ini biasanya berada di tengah-tengah antara prosesi saweran dan tradisi yalil.

Sakralnya Pernikahan Masyarakat Cilegon
Dalam konteks pernikahan masyarakat Cilegon, tradisi yalil memiliki makna yang begitu dalam, yakni sebagai simbol dan nasihat bagi kedua mempelai dalam memulai menjalin hidup bersama.

Syair-syair lagu Yalil di dalamnya mengandung nasihat supaya kedua mempelai menjalani kehidupan berumah tangga dengan penuh cinta dan kasih sayang, serta memohon keselamatan dan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera hidup. Dalam konteks agama, tradisi ini juga menggambarkan simbol religiositas masyarakat pengamalnya.

Selain itu, makna simbolis yang terlihat dalam tradisi buka pintu ini adalah simbol dimulainya kehidupan bersama sepasang manusia, sebagai suami istri yang memulai hidup bersama.

Akhirnya, sebagai masyarakat yang dikenal dengan masyarakat religius, masyarakat Cilegon memang tidak bisa dipisahkan dari unsur-unsur agama. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, selalu ada upacara-upacara yang merupakan perpaduan antara Islam dan budaya. Tentunya, hal tersebut tidak hanya memiliki fungsi agama semata, namun juga memiliki fungsi sosial bagi masyatakat Cilegon pada umumnya. Dengan tradisi yalil yang masih dilaksanakan secara turun-temurun sampai saat ini, semoga akan terus memperkokoh identitas sebagai muslim sekaligus memperkuat solidaritas di kalangan masyarakat di Cilegon.

Berikan Komentarmu!