Sejarah Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF)

Tahukah kamu, Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) tidak lagi hanya digelar di Jawa Tengah? Sejak 2023, festival literasi bergengsi ini bertransformasi menjadi "Moving Festival" yang menjelajahi situs-situs bersejarah Nusantara.

Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah perhelatan tahunan berskala internasional. Tujuannya agar menjadi ruang dialog bagi para penulis, seniman, akademisi, dan aktivis budaya untuk menggali dan memaknai kembali khazanah sejarah, sastra, dan spiritualitas Nusantara.

Sejak pertama kali diselenggarakan, BWCF telah melalui dua fase sejarah penting:

Satu Dasawarsa Pertama di Borobudur (2012–2022)

BWCF didirikan pada tahun 2012 oleh sekelompok intelektual dan aktivis budaya, di antaranya Seno Joko Suyono, Imam Muhtarom, Mudji Sutrisno, S.J., dan Yoke Darmawan, di bawah naungan Samana Foundation (kemudian dilanjutkan oleh BWCF Society).

Selama sekitar 10 tahun, festival ini rutin dilaksanakan di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dengan acara pembukaan dan pidato kebudayaan sering digelar di Yogyakarta. Inilah alasan nama “Borobudur” melekat.

Salah satu kegiatan ikonik BWCF adalah “Wisata Membaca Relief Candi”, di mana peserta diajak menafsirkan kembali kisah-kisah kuno yang terukir di Borobudur. Acara ini selalu diwarnai dengan seminar, workshop, peluncuran buku, pementasan seni, serta kelas yoga dan meditasi.

BWCF secara konsisten memberikan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada tokoh, perorangan, atau kelompok yang berkontribusi besar dan mempunyai dedikasi mendalam dalam bidang seni-budaya dan humaniora Nusantara.

Tema-tema Fenomenal Masa Borobudur

Setiap tahun, BWCF selalu mengangkat tema spesifik dan mendalam yang merangsang diskusi lintas disiplin. Tahun 2012 BWCF mengangkat tema utama, “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat.” Pada tahun 2013, mengangkat tema “Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara.” Tahun 2014: mengangkat tema “Rati Adil: Kuasa dan Pemberontakan di Nusantara.” Tahun 2016: Merayakan 200 Tahun Serat Centhini: Erotisme dan Religiusitas dalam Kitab-kitab Nusantara.” Tahun 2017, mengankat tema: “Gandawyuha: Pencarian Religiusitas Agama-Agama Nusantara.” Tahun  2021, mengambil tema: “Membaca Ulang Claire Holt: Estetika Nusantara, Kontinuitas, dan Perubahannya.” Menarik sekali tema-tema yang pernah diangkat oleh BWCF ini kita telusuri, tetapi mungkin dalam pembahasan khusus nanti, di sini.

 Konsep Moving Festival (Mulai 2023–Sekarang)

Setelah satu dasawarsa di Borobudur, BWCF bertransformasi menjadi lebih berkembang dan menjangkau wilayah yang lebih luas. Sejak tahun 2023, festival ini mengadopsi konsep Moving Festival, yaitu konsep festival berpindah kota.

Konsep ini bertujuan melebarkan jangkauan pelaksanaan festival ke daerah lain di Nusantara yang memiliki situs dan warisan budaya yang kaya. Tujuannya adalah memfokuskan kajian pada heritage lokal dan mencari relevansi aktualnya. BWCF beralih dari fokus Jawa-sentris menjadi eksplorasi heritage di seluruh Indonesia

Tahun 2023, bertempat di Malang BWCF mengangkat tema “Ganesa dan Repatriasi Benda Purbakala”, sekaligus memberi tribut kepada arkeolog Prof. Dr. Edi Sedyawati. Tahun 2024, bertempat di Muarajambi, menyelisik sejarah peradaban dan pusat pendidikan Buddhis tertua di Asia Tenggara.

Dan pada tahun 2025 ini memilih Cirebon sebagai tempat pelaksanaan. Kali ini Mengangkat tema “Estetika Nisan-nisan Islam Nusantara dan Dunia Ketuhanan Tarekat Syattariyah” di Keraton Kacirebonan.

Sebagai akhir tulisan ini, tidak berlebihan jika kita menyatakan bahwa BWCF konsisten dalam misinya, yaitu menggali khazanah literasi dan kebudayaan yang terabaikan untuk menemukan relevansi pemikiran masa lalu Nusantara bagi masa kini dan masa depan Indonesia. []

Berikan Komentarmu!