Delapan Ritus Siklus Kehidupan Sejak Masa Bayi Hingga Dewasa di Cilegon

Di Banten, terutama di wilayah Cilegon, tidak hanya terdapat tradisi tujuh bulanan. Namun, ada delapan jenis upacara adat yang berlangsung dari masa bayi hingga dewasa, yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu.

Setiap fase kehidupan, mulai dari kelahiran hingga dewasa, disertai dengan serangkaian ritual adat yang penuh makna dan simbolisme bagi komunitas.

Ritual-ritual adat ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang dihormati dan dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat.

Semua ini menjadi elemen penting dari identitas dan kebanggaan warga Cilegon dalam mempertahankan tradisi dari leluhur mereka.

Dengan mengenali dan melestarikan upacara adat, masyarakat Cilegon tidak hanya menjaga warisan budaya mereka agar tetap hidup, tetapi juga menyampaikan arti kebersamaan dan keterikatan antargenerasi kepada generasi berikutnya.

Masyarakat Cilegon memiliki berbagai ritual yang berkaitan dengan perjalanan hidup manusia, yang mencakup dari kelahiran sampai dewasa, antara lain:

1. Ritual Punaran

Ritual punaran biasanya dilaksanakan ketika ibu hamil memasuki usia tiga atau empat bulan. Tujuan dari ritual ini adalah untuk melindungi janin yang masih muda dan menghindarkan dari kemungkinan yang tak diinginkan. Dalam ritual punaran, ada sajian khas berupa nasi kuning.

2. Ritual 7 Bulanan/Rujakan/Ngebubur

Ritual tujuh bulanan diadakan saat bayi dalam kandungan mencapai usia tujuh bulan. Tujuannya adalah untuk memastikan keselamatan ibu dan bayi saat proses melahirkan. Dalam ritual ini, tersedia sajian spesial seperti bubur lolos, nasi punar, dan rujak.

3. Ritual Nyambut Tamu/Kelahiran

Ritual kelahiran ini merupakan bentuk rasa syukur atas hadirnya bayi. Keluarga dan tetangga memberikan ucapan selamat kepada orang tua si kecil. Tamu yang hadir akan disuguhi ketan serta gado-gado atau nasi tumpeng (congcot) untuk berkumpul bersama.

4. Upacara Melepaskan Tali Pusar Bayi (Puput)

Upacara melepaskan tali pusar ini sering disebut sepasaran, dilakukan setelah tali pusat bayi terlepas. Hidangan yang sering disajikan pada upacara ini adalah bubur yang terbuat dari beras.

5. Upacara Cukur Rambut/Akikah (Pemberian Nama)

Acara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kelahiran seorang bayi. Biasanya, upacara ini diselenggarakan ketika bayi berumur tujuh hari, sepuluh hari, atau empat puluh hari, tergantung pada adat keluarga. Dalam acara ini, bayi dicukur rambutnya dan diberi nama resmi.

6. Upacara Pertama Kali Menginjak Tanah

Acara ini diadakan saat bayi telah mampu menginjak tanah atau mulai berjalan. Hidangan yang biasanya disajikan pada upacara ini adalah nasi uduk.

7. Upacara Sunat

Upacara sunat atau sundatan ini dilakukan agar anak laki-laki bersih dari najis dan memenuhi salah satu kewajiban dalam agama Islam. Biasanya, sunatan ini dilakukan ketika anak laki-laki sudah berusia sekitar enam tahun.

8. Upacara Menstruasi (Haid Pertama)

Acara ini diadakan ketika seorang anak perempuan mengalami menstruasi untuk pertama kalinya. Biasanya, upacara ini berlangsung dengan selamatan yang sederhana dan menyajikan nasi kuning sebagai hidangan khas.(Ay/Sal)

Berikan Komentarmu!