Kawah Candradimuka dalam Sebuah Karya

Buatlah sesuatu! Apapun! Yang baik tentunya. Niscaya kita akan memetik hasil yang luar biasa.

Mengapa?

Ada sekian alasan yang ternyata bukan hal sepele. Bahkan bisa membentuk karakter baik pembuatnya secara tidak langsung.

1. Sebuah karya, semua berasal dari ide yang muncul di otak. Ide pun tidak dengan serta-merta bisa nge-pop up di otak kalau kita tidak memantiknya.

Pemantiknya pun bisa bermacam pula. Bisa dari diri sendiri, rasa penasaran dan keingintahuan yang besar pada sesuatu. Bisa juga karena minat dan bakat kita pada satu hal.

Setelah ide muncul pun, perlu kekuatan batin yang luar biasa untuk bertindak selanjutnya. Menjaga agar ide tetap segar bertahta di kepala dan memupuknya dalam perjalanan menjadikananya sebuah realita yang hadir di depan mata, juga perlu kesungguhan hati.

2. Tak banyak orang yang mau mempertahankan idenya. Apalagi mengeksekusinya menjadi sesuatu yang nyata dan dapat dinikmati, bukan hanya oleh diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Banyak orang lebih memilih mengubur ide di kepalanya hanya karena rasa malas dan enggan bersusah payah. Lebih memilih sesuatu yang instan dan cepat saji. Tak heran, ruang penting yang bernama otak, sering terbengkalai dan dibiarkan kosong. Padahal, ide sangat penting dan jadi fondasi sebelum semua yang kita saksikan dan nikmati dalam kehidupan nyata ini.

Sesungguhnya, satu ide (sesederhana apapaun) jika kita mau mewujudkananya, akan menjadi pemicu bagi bermunculannya ide-ide berikutnya. Ini sangat baik agar otak kita bisa lebih kreatif dan fast respond terhadap apapun yang muncul di sekitar kita.

3. Bahwa dalam proses rumit sebuah usaha, mengandung bibit-bibit ketekunan, kesabaran, ketelitian, dan lain sebagainya.

Soft skill ini tidak mudah dimiliki. Hanya dengan melakukan praktik secara langsung, kita sangat mungkin memilikinya. Itupun tak cukup hanya sekali dua, harus dalam jangka waktu lama dan pengulangan yang terstruktur.

4. Saat sebuah proses kita jalani, sesungguhnya kita sedang menanam bibit-bibit karakter baik dan keterampilan intrapersonal, kesadaran dan rasa percaya diri, pengaturan, motivasi, dan refleksi. Memberikan ruang pada diri kita untuk lebih memahami dan menghargai apapun yang kita miliki dan mampu kita lakukan.

Kita lebih adil dalam menilai diri. Tidak terlalu bangga sehingga menjadi sombong dan tidak terlalu rendah sehingga jatuh pada sikap dan rasa tidak percaya diri serta pesimis.

Berproses dalam sebuah karya menjadikan diri kita lebih berharga, at least untuk diri kita sendiri dan tidak menutup kemungkinan untuk orang lain.

5. Berkarya bisa juga menjadi salah satu bentuk ungkap syukur kita atas karunia Allah. Anggota tubuh penting seperti hati dan otak yang merupakan dua pembeda manusia atas makhluk Allah lainnya, benar-benar kita berdayakan dan kita maksimalkan.

Berkarya menunjukkan keterlibatan hampir seluruh anggota badan kita. Koordinasi atas keseluruhannya, adalah bukti bahwa kita menyambut karunia Allah tersebut dengan suka cita. Menggunakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup. Baik diri sendiri maupun orang lain.

Bukankah Allah telah berfirman dalam Qur’an surah Ibrahim ayat 7 bahwa, ā€œJika kamu sekalian bersyukur, niscaya akan kami tambahkan nikmatmu dan jika kalian mengingkari nikmat (nikmat-Ku), maka niscaya azabku sangat berat.ā€

Fakta membuktikan sesiapa yang berkarya, terus-menerus, idenya semakin subur dan bertambah kaya. Pintu-pintu keberkahan semakin terbuka. Bisa berupa uang, penghargaan dari orang lain, rasa syukur dan bangga, dan bentuk-bentuk lainnya.

6. Berkarya juga membuat kita lebih memahami seluk-beluk suatu bidang. Bahwa ada sekian jalan yang harus ditempuh, sampai ide yang muncul di kepala menjelma menjadi sebuah karya dan hasil yang benar-benar nyata.

Proses ini membuat kita lebih menghargai karya orang lain. Tidak memandang rendah sebuah karya hanya karena tampilan, bentuk, dan rasanya yang berbeda.

Dalam sebuah karya, ada niat tulus yang diiringi kerja keras, tetesan peluh dan kelelahan yang bersatu padu dalam bentuk semangat. Sinergi atas semuanyalah yang membuat sebuah karya sangat bernilai. Menjadi perwujudan atas diri si pembuat.

Maka, berkarya membuat kita menjadi lebih bijak dan hati-hati dalam menilai dan memandang karya orang lain.

Sebagai simpulan, proses panjang dari sebuah ide yang berwujud menjadi sebuah karya nyata, adalah ejawantah atas sekian lapis sikap positif yang dimiliki pembuatnya. Berkarya membuat kita menjadi sadar dalam posisi dan kapasitas kita sebagai makhluk Allah yang memiliki predikat ahsani taqwiim.

Allahu a’lam bishshowaab

Berikan Komentarmu!