Selasa (25/2/2025), pagi itu langit di atas Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah seperti mengenakan gaun biru yang bersih, bebas dari awan gelap yang biasa menutupi cahaya matahari. Matahari baru saja muncul. Ia mengirimkan sinar lembut yang menyentuh kulit dengan hangat.
Di jalan depan madrasah, terdengar riuh rendah suara langkah kaki yang berpadu dalam harmoni. Ratusan siswa yang mengenakan pakaian seragam hitam putih yang tampak sederhana namun penuh makna. Mereka bergerak maju, menghidupkan suasana yang mulai sepi di pagi hari. Mereka bukan hanya berjalan, tetapi membawa semangat yang mengalir, membawa sinar kegembiraan yang tak bisa dipadamkan oleh rutinitas sehari-hari.
Sebelum pawai dimulai, para peserta kumpul di depan Mushola. Mereka semua hendak mengikuti pembukaan kegiatan pawai menyambut bulan suci Ramadan. Ada sekitar 250 peserta yang akan ikut serta dalam kegiatan itu. Para peserta terdiri dari siswa MTs-MA Al-Khairiyah Karangtengah dan didampingi dewan guru.
Perlahan, matahari mulai meninggi. Sekitar pukul 08.00 WIB, pembawa acara membuka kegiatan dengan salam. Kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh saudara Aziz, siswa MTs kelas IX. Semua yang hadir meresapi lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan. Setelah itu, Novi, selaku ketua pelaksana memberi sambutan. Novi melaporkan bahwa pawai menyambut bulan suci Ramadan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Rajaban.
Acara pada pagi itu dibuka oleh Kepala MTs Al-Khairiyah Karangtengah, Ayatulloh. Pada kesempatan itu Ayatulloh berpesan, bahwa Ramadan bulan yang mulia. Ramadan bulan suci. Mari sambut Ramadan dengan hati yang gembira.
Selesai acara pembukaan, seluruh peserta berdiri. Panitia yang merupakan anggota OSIS MTs dan MA Al-Khairiyah Karangtengah segera mengambil peran. Mereka mulai mengatur barisan pawai. Di barisan depan, diisi oleh kelas VII, VIII dan IX. Kemudian disusul barisan kelas X, XI dan XII.
Tahun ini, untuk acara pawai, panitia pelaksana mengusung tema āKebersamaan dalam kebaikan di bulan yang suciā. Menurut salah satu panitia di bagian acara, tema ini merupakan salah satu harapan dan doāa untuk seluruh warga madrasah. Ia berharap adanya kekompakan dan kebersamaan di antara warga madrasah.
Peserta mulai berjalan perlahan. Panitia dan dewan mengambil posisi. Rute yang akan dilewati yaitu lingkungan Ciputat, Karangtengah, Kampung Telu, Duku Malang, Pasar Bunder dan kembali lagi ke madrasah.
Iring-iringan pawai ini bukan sekadar parade biasa. Tidak ada kendaraan besar atau perhiasan mewah yang membalut mereka. Yang ada hanyalah para siswa dengan langkah ringan dan wajah penuh antusiasme, menapaki jalan dengan penuh semangat.
Pakaian hitam putih yang mereka kenakan bukan hanya sekadar simbol dari madrasah mereka. Hitam dan putih adalah warna yang penuh filosofi, yang melambangkan kesederhanaan dan keseimbangan, seperti dua sisi dari kehidupan yang berjalan beriringan. Seolah-olah mereka ingin mengingatkan kepada kita bahwa Ramadan, bulan penuh berkah itu harus disambut dengan kebahagiaan dan kebersamaan.
Para siswa yang iku serta dalam pawai tidak hanya berjalan dalam barisan yang teratur, tetapi mereka juga membawa misi yang jauh lebih dalamāmisi untuk berbagi. Di tangan mereka, terbungkus snack kecil, kue-kue ringan yang tampaknya sederhana.

Snack-snack itu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Snack yang mereka bawa bukan hanya sekedar makanan ringan, melainkan sebuah jembatan penghubung antara hati-hati yang berbeda. Dengan penuh kegembiraan, mereka membagikan snack itu kepada setiap orang yang mereka temui di sepanjang jalan.
Warga yang melintas, pejalan kaki yang berhenti sejenak, atau anak-anak kecil yang melambai dari balik pagar sekolah atau dari balik pagar rumah, semua mendapatkan sepotong kecil kebahagiaan yang mereka tawarkan dengan sukarela. Senyum dan tawa mengiringi syahdunya parade pawai pagi menjelang siang itu.
Para peserta pawai tak memilih siapa yang pantas menerima. Tidak ada perbedaan antara mereka yang memiliki lebih atau kurang. Snack itu dibagikan begitu saja, dengan tangan yang penuh keikhlasan.
Di antara senyum lebar dan tawa riang mereka, terselip sebuah makna yang mendalam: Ramadan adalah waktu untuk memberi tanpa menunggu balasan, untuk berbagi tanpa pamrih, bahkan dari hal yang paling sederhana sekalipun.
Sebuah bungkus kue, bagi mereka yang memberi, adalah simbol perhatian, sedangkan bagi mereka yang menerima, ia adalah simbol kebaikan yang datang dari hati yang tulus. Dua simbol ini menjadi simpul yang mesti dijaga dan dirawat. Kita semua bersaudara. Itulah pesan yang hendak disampaikan oleh para peserta pawai.
Pada beberapa titik, langkah pawai berhenti sejenak. Siswa-siswa itu mengatur ulang barisan mereka, menyusun ulang bingkisan snack yang sudah hampir habis. Tak ada raut lelah atau pun kecewa saat itu, yang ada adalah raut kebahagiaan. Karena pesan yang meraka sampaikan diteri dengan baik.
Meski beberapa barisan tak selalu rapih saat itu, nampak raut kegembiraan mereka tak pernah surut. Mereka tetap semangat, berlari kecil, mengayunkan tangan mereka yang penuh dengan snack, memberi lebih banyak lagi kepada mereka yang berada di sisi jalan.
Bahkan bagi mereka yang tidak menerima snack, tidak ada rasa kecewa di wajah-wajah kecil itu. Mereka tahu, kebaikan itu tidak terbatas pada seberapa banyak yang bisa mereka bagi, tetapi lebih kepada seberapa tulus niat mereka untuk berbagi.
Matahari yang semakin tinggi seolah turut merayakan kedatangan bulan suci. Perlahan, pawai itu mulai berakhir. Namun jejak-jejak kebahagiaan dan kebaikan yang ditinggalkan anak-anak itu tetap terasa.
Langit yang semula hanya biru biasa kini tampak lebih terang, seolah mencerminkan semangat yang telah mereka bawa sepanjang perjalanan. Semangat yang tak sedikit pun pudar menghantarkan mereka kembali ke gerbang madrasah. Ke titik semula.
Meski pawai itu terlihat sederhana dan tanpa pompaan yang berlebihan, sebenarnya para peserta membawa pesan yang jauh lebih besar daripada yang bisa dijelaskan dengan kata-kata: Ramadan datang bukan hanya untuk mengajarkan kita untuk berpuasa, tetapi juga untuk berbagi, untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita, bahkan dengan cara yang paling sederhana sekalipun.

Saat pawai berakhir, para siswa kembali ke madrasah. Meskipun pawai telah selesai, banyak di antara mereka yang merasa bahwa kebahagiaan itu tidak berhenti begitu saja. Tahun depan harus kembali diadakan. Tahun depan harus lebih meria dari hari ini. Katanya.
Ramadan yang akan segera datang bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membuka hati untuk memberi, untuk saling berbagi dalam kasih sayang tanpa batas. Ramadan bukan hanya milik mereka, tetapi milik semua orang, dan mereka telah memulainya dengan langkah kecil penuh makna.
Di akhir kegiatan para peserta dan panitia berharap, keberkahan akan turun dan menemani bersama selama bulan Ramadan dan bulan-bulan lainnya.