Di kampung saya ada ke-khas-an tersendiri ketika puasa Ramadhan menginjak hari kelima belas. Orang-orang sibuk mempersiapkan acara ngeriung yang akan digelar nanti —malam keenam belas Ramadhan. Yang dipersiapkan pun tidak biasa. Bukan nasi dan lauk-pauk sehari-hari. Kali ini masyarakat mempesiapkan ketupat lengkap dengan sayur santan. Kadang-kadang ada menu tambahan, semisal agar dan kue basah lainnya. Nanti malam, ketupat dan sayur itu akan di masukkan ke besek, dan dibawa ke masjid setelah shalat tarawaih selesai.
Oh iya, satu lagi, selain ketupat, sayur ada satu lagi olahan makanan khas yang menyertai “paket berkat” tadi, namanya lepet. Kalau ketupat dibuat dari beras cere, lepet sendiri dibuat dari beras ketan. Ketupat dibungkus dalam janur yang dianyam, kalau lepet dibungkus dengan janur yang dilipat tengah dan diikat dengan tali rafia dengan cara digelibet sepanjang badan lepet itu. Dulu, sebelum tali plastik ramai digunakan, masyarakat menggunakan tali yang dibuat dari pohon pisang kelutuk.
Sebelum mulai menulis ini, saya mencoba mencari informasi mengenai tradisi ngupat di Indonesia. Dari beberapa artikel yang saya baca, semunaya membahas tradisi ketupat ketika lebaran Idul Fitri tiba. Ada satu daerah malah memberlakukan tradisi membuat ketupat ini setelah satu minggu awal bulan Syawal. Apakah tradisi ngupat di pertengahan bulan Ramadhan ini khas Banten, atau khas Cilegon? Atau, justru tersebar secara acak di seluruh Indonesia, karena saya mengkonfirmasi teman yang pernah tinggal di Lampung, mengatakan ada tradisi yang sama seperti di kampung saya tinggal.
Dari makna ngupat yang umum, yakni “ngaku lepat” (mengaku bersalah atau berdosa) dihubungkan dengan pertengahan puasa bisa dikaitkan bahwa puasa yang sudah berjalan setengah bulan bisa jadi kita lengah, abai, lepat (salah), tidak memanfaatkannya dengan baik. Ketupat bisa mengingatkan kepada kita bahwa ibadah puasa sudah berjalan setengah bulan dan tinggal setengah bulan lagi. Istilah yang terkenal belah ketupat: belah dua. Belahan pertama, setengah bulan awal kita telah melakukan kelepatan, jangan sampai belahan kedua, setengah bulan berikutnya kita sia-siakan, padahal Ramadhan adalah bulan yang suci, penuh keistimewaan: pahala dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni, jangan sampai berlalu begitu saja tanpa kita memanfaatkan keistimewaan-keistimewaan tersebut.
Dengan adanya tradisi ngeriung ketupat, suasana di masjid bergairah kembali, ramai kembali, yang semula mulai sepi dibandingkan malam-malam awal bulan. Ada istilah “guyon” di minggu kedua shalat tarawaih mengalami ke-majuan. Isitah ini lelucon untuk mengatakan bahwa barisan shaf shalat tarawaih tinggal shaf depan saja. Tapi, di malam keenam belas ramai kembali, seperti kurang lebih pada malam-malam awal puasa. Mungkin ini metode yang diambil oleh para pendahulu untuk memakmurkan masjid kembali pada malam Ramadhan. Seperti nanti juga, malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan, ada tradisi maleman, yang isinya sama ngeriung.
Pada tradisi maleman, orang-orang membawa panganan ke mesjid, setelah doa bersama panganan itu dibagikan kepada seluruh jamaah ngeriung. Dan otomatis masjid menjadi ramai pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan ini. Jadinya, suasana masjid yang ramai setiap malam terus terjaga sepanjang bulan Ramadhan.
Pada dua ngeriung tersebut: pertengahan bulan dan malam ganjil sepuluh terakhir Ramadhan, kesepuhan atau tokoh masyarakat, biasanya memberikan wejangan kepada jamaah untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu yang tersisa dengan menguatkan ibadah malam, dari shalat malam, membaca Al-Quran, berzikir dan mengharap ampunan dari Allah subhanahu wa taala.
Sampai di sini bisa kita tarik beberapa pesan dari tradisi kupatan di pertengahan bulan puasa ini. Pertama, mengingatkan bahwa puasa sudah setengah jalan dan tinggal setengah bulan lagi. Kedua, berbagi maknan kepada sesama umat Islam. Ketiga, memakmurkan kembali masjid. Keempat, silaturrahmi. Kelima, mendoakan kepada sesama muslim yang masih hidup dan berkirim fatihah kepada arwah-arwah muslim yang sudah meninggal. Keenam, mempertahankan tradisi yang pernah dirumuskan Walisongo. Dan mungkin masih banyak lagi hikmah yang bisa diperas lagi dari tradisi ngupat ini.
Ditandai dengan ngeriung kupat, ada dua perubahan atau perbedaan yang menonjol mulai dari malam keenam belas ini. Pertama, pada shalat Tarawaih, yang semula membaca surat Al-Ikhlas setiap dua rakaatnya, diganti dengan surat Al-Qodar. Kedua, pada shalat Witir: membaca doa qunut pada rakaat terakhir.
Cilegon, 17 Maret 2025