Sikap nasionalis sebagai manifestasi dari kecintaan seorang muslim terhadap tanah air merupakan diskursus yang telah lulus dari pergolakan pemikiran Islam. Seorang muslim sejatinya tidak lagi penting memperdebatkan untuk apa kita rela berkorban demi perjuangan bela negara dan dalam rangka mempertahankan identitas bangsa kita. Mengapa demikian? Jawabannya tentu akan merujuk pula pada ajaran Islam itu sendiri.
Islam menghendaki adanya persatuan dan kesatuan dalam keharmonisan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa (Al-Hujurat ayat 13) serta memberikan penekanan kesadaran bahwa adanya keragaman suku-bangsa tersebut merupakan kenyataan yang mesti dijadikan media untuk saling mengerti keragaman dan kesetaraan dalam bingkai ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah.
Islam juga mengakui adanya hak-hak asasi manusia yang dalam bingkai syariat hal ini bahkan menjadi standar kemaslahatan hidup dan tujuan diberlakukannya syariat pada setiap kurun kenabian. Kita umat Islam paham bahwa setiap individu muslim berkewajiban menjaga lima hal yang dikenal dengan maqashid asy-syariah, yakni: menjaga agama (حفظ الدين), menjaga akal (حفظ العقل), menjaga nyawa (حفظ النفس), menjaga keturunan (حفظ النسل), dan menjaga harta (حفظ المال).
Sudah barang tentu, dalam rangka menjaga kemaslahatan lima hal tersebut, dibutuhkan adat istiadat dan hukum-hukum yang normatif dan sistematis yang dapat diterapkan dalam lingkup kebudayaan dan peradaban suatu bangsa yang berdaulat, yang kemudian menjadi identitasnya dan dipertahankan dari waktu ke waktu dalam teritorial tertentu atau sebuah negara.
Oleh karena persoalan nasionalisme dan sikap nasionalis sudah sejak lama menjadi perilaku dan ajaran tokoh-tokoh besar umat Islam, tak terkecuali ulama-ulama Banten, maka penyair Syekh Syibromalisi dalam rangka menggugah semangat nasionalisme ini memandang penting bagaimana kita mesti belajar dari pendahulu kita. Beliau mengingatkan:
اخوان استيقظوا من غفلاتكم
Wahai saudara-saudaraku, bangkitlah dari kelalaian kalian
فاقتفوا آثار الأباء الكرام
Napak tilaslah jejak perjuangan para guru bangsa yang penuh kemuliaan
في ترقية أوطانهم بأموالهم وانفسهم لله
Dalam memajukan tanah air mereka lillahi ta’ala dengan harta bahkan jiwa yang dikorbankan
Pada syair yang lain, beliau menyatakan:
اسلافنا قد ملكوا # ما هو مجد مقنع
Para pendahulu kita telah memiliki ° suatu kehormatan yang memuaskan hati
هيا نحي الوطن # والله عنا مانع
Mari kita hidupkan tanah air kita ° Allahlah yang akan jadi pelindung segala
ضرار كل حاسد # معاند ودافع
Marabahaya dari semua yang dengki ° yang keras memusuhi dan Allah jualah pembela sejati
لنا معالي الأمو # ر كلها فاقتنعوا
Segala urusan yang mulia berpihak pada kita ° maka berqana’ah saja dengan potensi yang ada
Dalam konteks ke-Al-Khairiyahan dan ke-Bantenan, kita dapat menuai banyak pelajaran tentang perjuangan dan nasionalisme dari tokoh-tokoh Geger Cilegon atau tokoh Ki Syam’un bersama murid-murid beliau.
Selain penyair menyebutkan bahwa penting bagi kita belajar dari sejarah pendahulu kita, beliau juga menekankan kembali bahwa setiap perjuangan mesti dilandasi spirit lillahi ta’ala serta optimis bahwa ketika Gusti Allah menjadi tumpuan kekuatan dan perlindungan, maka berarti kita telah menggenggam segala potensi kemajuan pergerakan yang ada.
Pada syair yang lain, Ki Syibromalisi menegaskan bahwa setiap pergerakan konstruktif tidak mungkin terwujud manakala tidak dibekali dengan wawasan keilmuan yang cukup. Demikian pula cita-cita membela hak-hak kemanusiaan tak dapat mencapai kemaslahatan manakala tanpa bermodalkan pengetahuan. Beliau bersenandung:
يابنى بنتن هبوا ¤ من نيام عميق
أطلبوا العلم والعلا ¤ مدة عمركم باق
لا تكونوا كسالى ¤ فتكونوا جهلا
وبه الوطن ذل ¤ وبه الديوان زل
انما الحياة ضاقة ¤ فاطلبوا فيه السماحة
وبها العلم ذريعة ¤ لحياة الإنسانسة
Wahai putra Banten, bangkitlah ° dari tidur yang lelap
Tuntutlah ilmu dan kemuliaan ° selagi umur masih menetap
Janganlah bermalas-malasan ° sehingga jadi berpikiran gelap
Karena kebodohanlah negeri jadi hina ° karenanya jua “Dewan” menyeleweng kerap
Hidup ini sementara tetapi penuh problematika ° maka carilah padanya keluasan hati dan keluwesan sikap
Berkat lapang dadalah ilmu jadi wasilah ° bagi kemaslahatan hidup manusia segenap