Dalam sejarah perjuangan rakyat Banten, bahwa perlawanan terhadap penjajahan Belanda tidak lepas dari peran para ulama, jawara dan pemimpin lokal yang memadukan kekuatan spiritual dan strategi militer yang didapatkan dari pengalaman hidupnya.
Salah satu tokoh penting dalam perjuangan rakyat Banten melawan penjajahan Belanda adalah KH. Syam’un. KH Syam’un seorang ulama dan pemimpin militer yang berjuang di bawah kepemimpinan Residen KH. Ahmad Chatib.
Tulisan ini memaparkan perjuangan dari sosok ulama yang terlatih dalam bidang militer. Yang perannya di era Residen KH. Ahmad Chatib yang sukses dalam penumpasan komunis di Banten.
KH. Syam’un lahir pada tahun 1883 di Kampung Beji, Desa Bojonegara, Serang. KH. Syam’un lahir dari pasangan Haji Alwijan dan Siti Hajar, yang merupakan putri dari KH. Wasyid, tokoh utama “Geger Cilegon” tahun 1888. KH. Syam’un merupakan cucu Kiai Wasjid, penggerak pemberontakan 1888 di Cilegon melawan penjajah Belanda.
KH. Syam’un belajar di lingkungan kiai dari pesantren ke pesantren. Pada 1905 – 1910 berangkat belajar ilmu agama dan bermukim di Makkah, kemudian dilanjutkan ke Universitas Al Azhar Kairo, Mesir (1910 – 1915) dan kembali ke tanah air pada tahun 1915.
KH Syam’un bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada November 1943. Sebagai Daidanco atau Komandan Batalion. KH. Syam’un bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada tahun 1945, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dalam BKR, beliau diangkat sebagai komandan dengan pangkat kolonel. Setelah BKR bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), KH. Syam’un diangkat sebagai Panglima Divisi I TKR, yang kemudian dikenal sebagai Divisi 1000/I, dengan pangkat kolonel.
KH. Syam’un adalah seorang kiai sekaligus pejuang yang memiliki peran besar dalam perlawanan terhadap kolonialisme di Banten. Sebagai seorang ulama, KH. Syam’un tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangkitkan semangat jihad di kalangan santri dan masyarakat. Pesantren yang ia pimpin menjadi pusat kaderisasi pejuang.
KH. Ahmad Chatib, yang menjabat sebagai Residen Banten, memainkan peran sentral dalam mengoordinasikan perjuangan melawan Belanda. Di bawah kepemimpinannya, perlawanan di Banten terorganisir dengan lebih baik.
Pada 2 September 1945, KH. Ahmad Chatib menyusun personalia pemerintahan daerah Banten dan membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). Dalam struktur pemerintahan nya Residen Banten kepada KH Syam’un diberi tanggung jawab untuk menangani urusan militer, termasuk pendirian Badan Keamanan Rakyat (BKR) di seluruh wilayah Banten.
Setelah diangkat untuk menangani urusan militer di bawah kepemimpinan Residen KH. Ahmad Chatib pada awal September 1945, KH. Syam’un melaksanakan beberapa operasi militer penting di Banten: Penumpasan Gerakan Dewan Rakyat (Oktober 1945 – Januari 1946).
Gerakan Dewan Rakyat, dipimpin oleh Tje Mamat, muncul pada akhir Oktober 1945 dan melakukan tindakan seperti pembunuhan dan penangkapan Bupati Serang Hilman Djajaningrat serta penguasaan kantor-kantor vital di Serang.
Sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi 1000/I, KH. Syam’un memimpin operasi militer untuk menumpas gerakan ini. Pasukannya berhasil membebaskan pejabat yang ditahan, merebut kembali kantor-kantor yang dikuasai, dan menangkap anggota Gerakan Dewan Rakyat, termasuk Tje Mamat.
Di masa revolusi fisik, saat Belanda melancarkan agresi militer, KH. Syam’un, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Serang, memimpin perang gerilya di daerah pegunungan, termasuk di Gunung Cacaban, Anyer.
Sebagai pemimpin militer, KH. Syam’un diberikan kepercayaan untuk mengatur strategi perang gerilya. Strategi ini sangat efektif dalam menghadapi pasukan kolonial yang memiliki persenjataan lebih modern. Dengan taktik serangan mendadak dan pemanfaatan medan yang sulit, pasukan KH. Syam’un berhasil memberikan perlawanan sengit terhadap Belanda.