Mungkin sebagian orang bertanya-tanya, bagaimana riwayat perjalanan Kota Cilegon dari masa ke masa?
Tidak sedikit para penulis ataupun peniliti mengartikan Cilegon sebagai daerah kubangan atau rawa. Jika didefinisikan secara etimologi, kata Cilegon berasal dari bahasa Sunda, terdiri dari dua suku kata, Cai/Ci dan Legon/Melegon. Cai memiliki arti air, sedangkan Legon artinya kubangan air.
Di masa lalu, Cilegon memang wilayah rawa yang tak banyak orang enggan tinggal. Pada masa itu, dibandingkan dengan Cilegon, pemerintah kolonial Belanda lebih memilih Anyer sebagai pusat adminstratif kantor Asisten Residen. Pasca meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883, barulah kantor Asisten Residen pindah ke Cilegon.
Begitupun dengan perkembangan industri di masa lalu. Dalam catatan sejarah Indonesia, dibandingkan dengan wilayah lain di Pulau Jawa, tidak ada pabrik atau industri yang berdiri di Cilegon di masa kolonial. Industri masuk ke Cilegon ketika Indonesia dipimpin oleh Presiden Soekarno dan Presiden Suharto.
Dua fakta sejarah tersebut dapat menjadi pijakan untuk mengaminkan bahwa memang di masa lalu Cilegon merupakan wilayah yang dipenuhi rawa, kubangan, atau danau-danau kecil. Jejak penamaan Cilegon ini dapat dilihat dari banyaknya nama tempat di Kota Cilegon yang berhubungan dengan āairā dan ārawaā.
Seperti: Rawa Arum, Kubang Welingi, Kubang Lesung, Kubang Sepat, Kubang Lele, Kubang Sari, Kubang Bale, Kubang Menyawak, Kubang Kutu, Kubang Welut, Kubang Laban, Kubang Lesung, Kubang Wates, Kubang Kalak, Kubang Lumbra, Kubang Saron, Kubang Pura, Kedung Baya, Kedung Kemiri dan Kedung Dalem.
Begitu juga tempat di Cilegon yang diawali dengan kata Ci. Di antaranya: Cipala, Cibeber, Cigading, Ciwandan, Cikerai, Citangkil, Ciwedus, Cipinang, Cikerut, Cidunak, Ciora, Cilurah, Ciberko, Cipaut, Ciputri, Ciwaduk, Cimerak, Ciriu, Cikuasa, Cigiceh, Cilentrang, Cidandang, Cikebel, Cipaot, Cikendat, Ciasem, Cigobang dan Cirubuh.
Sebelum peristiwa perlawanan rakyat Cilegon tahun 1888, sangat sedikit catatan kolonial tentang keberadaan masyarakat di Cilegon. Barulah pasca peristiwa 1888 tersebut, Cilegon menjadi buah bibir pemerintah Kolonial Belanda. Mata pemerintah Kolonial Belanda tertuju ke Cilegon. Media masa pada saat itu berulangkali kali menuliskan tentang Cilegon. Perlawanan heroik rakyat Cilegon menegaskan, bahwa wilayah ini memiliki peran tersendiri dalam historiografi Indonesia.
Cilegon mulai ramai ketika berkembangnya infrastruktur, dan transportasi darat dan laut. Pelabuhan Merak yang mulai dirintis sejak tahun 1810 oleh Daendels berkembang pesat saat dibangunnya jalur kereta api yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dengan Merak. Alat transportasi ini membantu memobilisasi masyarakat dalam menggerakkan roda perekonomian.
Begitu juga dengan sektor pariwisata. Setelah dibukanya jalur kereta api dan dibangunnya stasiun-stasiun yang ada di Cilegon, keindahan alam Cilegon mulai terekspos oleh beberapa media massa. Keindahan alam pegunungan dan indahnya pasir putih di beberapa pantai di Sangkanila-Merak dan Florida-Suralaja menjadi incaran para turis dan pelancong pada di masa itu.
Dalam bidang pendidikan, nama Cilegon mulai terangkat saat berdirinya Pesantren dan Madrasah Al-Khairiyah di Citangkil. Lembaga pendidikan Islam ini mulai dirintis oleh KH. Syamāun pada tahun 1916. Selain Al-Khairiyah Citangkil, di Cilegon juga berdiri Al-Jauharotunnaqiyah di Cibeber pada tahun 1931. Lembaga pendidikan Islam ini didirikan oleh KH. Abdul Latif.
Dua lembaga pendidikan Islam di Cilegon ini menjadi pusat pendidikan Islam dan menjadi rujukan bagi masyarakat Banten ataupun luar Banten dari dahulu hingga hari ini. Tidak sedikit orang dari luar Banten bersekolah di lembaga pendidikan Islam ini. Seperti dari Jakarta, Lampung, Palembang dan daerah lainnya.
Sebutan Cilegon kota baja berawal dari proyek ambisius Presiden Sukarno. Pada tahun 1958, Konsultan Wedero dari Jerman menyarankan agar dibangun pabrik besi baja di Cilegon. Pada tahun 1960, Indonesia menggandeng perusahaan dari Uni Soviet. Tepat pada 20 Mei 1962, dimulailah pembangunan pabrik besi baja di Cilegon. Pembangunan proyek ini dinamakan Proyek Besi Badja TRIKORA.
Perjalanan pembangunan proyek baja di Cilegon tidak berjalan mulus. Ini dikarenakan adanya peristiwa tahun 1965 yang mengorbankan perwira militer Angkatan Darat. Ketika itu, situasi politik nasional sangat genting. Pada tahun 1966, pemerintah pusat menginstruksikan agar menghentikan seluruh proyek yang dibiayai oleh negara-negara sosialis.
Pada masa kepemimpinan Presiden Suharto, proyek pembangunan pabrik baja ini kemudian dilanjutkan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 1970, berdirilah PT. Krakatau Steel sebagai kelanjutan dari proyek terdahulu.
Dalam majalah Berita Industri No. 6 Th. X tahun 1976 halaman 29, bahwa PT. Krakatau Steel memiliki 2 tugas pokok: 1). Melanjutkan pembangunan proyek baja ex Proyek Trikora dengan sejauh mungkin memanfaatkan fasilitas yang sudah ada. 2). Mengembangkan industri baja nasional dalam arti kata yang seluas-luasnya. Pada tahun 1977, Presiden Suharto meresmikan beroperasinya PT. Krakatau Steel.
Pembangunan industri baja di Cilegon menjadi pintu masuk berdirinya industri-industri lain, dari mulai industri logam hingga industri petrokimia. Dari berdirinya industri ini, maka lahirlah pelabuhan-pelabuhan sebagai penyokong berjalannya proses produksi dan proses pemasaran produk. Tidak hanya sampai di situ, Cilegon juga tercatat sebagai pemasok listrik terbesar di Pulau Jawa karena keberadaan PLTU Suralaya.
Sejak ditetapkan menjadi kota mandiri berdasarkan UU No. 15 tahun 1999 tanggal 27 April 1999, Cilegon kini berusia 26 tahun. Usia ini sudah tergolong dewasa. Terbilang matang disebut sebagai sebuah ākotaā.
Saat ini Kota Cilegon memiliki 8 kecamatan dan 43 kelurahan. Kota yang memiliki luas wilayah 175,51 km2 ini pada tahun 2020 berpenduduk 434.896 jiwa. Dengan wilayah yang berbatasan dengan Selat Sunda, Kota Cilegon dianugerahi laut dan pantai sepanjang 25 km.
Berawal dari wilayah yang tak diperhitungkan, kini Cilegon menjadi kota yang disegani di Indonesia. Wilayah yang sederhana, asri, agraris dan tenang, kini menjadi pusat industri terbesar di Indonesia.
Namun, ada PR besar dari narasi besar āGemuruh Kota Bajaā ini: Polusi dan Angka Pengangguran.
Selamat ulang tahun untuk tanah kelahiranku.
Merak, 27 April 2025
2 comments
Kenapa tidak ada kubang Sawit yang posisinya dulu diarea kawasan KS indutri KS disana dulu terdapat madrasah Al-khairiyah kubang sawit
terimakasih informasinya, kami terima sebagai informasi penting