Generasi muda saat ini adalah salah satu generasi Harapan yang sangat penting untuk mewujudkan salah satu impian Indonesia, yaitu menjadi Indonesia emas pada tahun 2045. Namun apa jadinya jika generasi muda kita hari ini adalah generasi yang takut untuk membicarakan kebenaran. Bagaimana kalau generasi kita saat ini justru lebih banyak takutnya dibandingkan dengan keberaniannya? Bagaimana Jika generasi kita saat ini justru lebih banyak meniru dan mengikuti hal-hal yang justru itu mengancam untuk masa depannya? Apakah itu tetap bisa menjadi pondasi untuk Indonesia emas? Saya rasa tidak.
Permasalahan-permasalahan ini justru timbul akibat ketakutan dan kebingungan mereka tentang tujuan apa yang sebenarnya mereka harus lakukan, apa yang sebenarnya mereka harus tiru. Karena Sekarang, kebanyakan remaja-remaja di negara kita itu hanya Fomo (fearofmissingout). Mereka meniru apa yang mereka lihat dari sosial media, karena sekarang generasi muda saat ini sangat mudah sekali menemukan kepastian tentang dunia eksternal. Hal ini sudah diprediksi oleh salah satu tokoh psikologi bernama ROLLO MAY. Seorang psikologi eksistensial.
Pada tahun 60-an dia memprediksi bahwa akan ada satu masa dimana generasi muda akan sangat mudah sekali menemukan kepastian tentang dunia eksternal. Saat itu terjadi dengan bantuan teknologi. Maka generasi muda akan mengalami kegelisahan yang luar biasa. Mengapa? Pertama, karena tidak ada lagi ruang untuk misteri, mereka tidak lagi wondering tentang alam. Mereka tidak lagi wondering tentang dirinya sendiri. Kedua, mereka tidak sanggup untuk mendengarkan suara dari dalam dirinya sendiri. Seperti yang terjadi saat ini dengan generasi muda, dimana banyak generasi muda tidak lagi wondering tentang sains, tentang misteri alam, dan bahkan mereka tidak sanggup untuk mendengarkan dirinya sendiri, “apa sih yang saya mau? Apa yang membuat saya Senang dan takut”. Tanpa mereka sadari itu adalah separuh dari masalah mereka yang biasa disebut dalam bidang psikologi “Quarterlifecrisis”.
Quarterlifecrisis adalah masa ketidak-pastian Dan ketidak-stabilan serta kecemasan akan perubahan besar yang terjadi pada kehidupan. Quarterlifecrisis merupakan fenomena psikologis yang dialami individu pada rentang usia dewasa muda, yakni sekitar 18 hingga 30 tahun. Istilah ini merujuk pada masa krisis identitas, kebingungan, dan keresahan terhadap arah hidup, karier, serta relasi sosial. Robbins dan Wilner (2001) menyebut fase ini sebagai periode transisi penting ketika seseorang menghadapi tekanan untuk menentukan pilihan yang akan memengaruhi kehidupan jangka panjang.
Quarterlifecrisis bisa terjadi karena berbagai hal dari dalam diri sendiri atau dari luar. Pertama, tekanan dari masyarakat dan budaya sering kali mengharapkan seseorang segera mencapai standar tertentu, seperti punya pekerjaan tetap, menikah, atau finansial stabil. Kedua, perbandingan dengan orang lain, terutama lewat media sosial, membuat banyak orang merasa kalah atau tertinggal dari teman-temannya. Ketiga, ketidakpastian soal karier menjadi salah satu penyebab utama, karena banyak lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jurusan atau harapan mereka. Keempat, tekanan finansial akibat biaya hidup yang mahal, cicilan, atau tanggung jawab keluarga bisa meningkatkan beban mental.
Selain itu, faktor dari dalam diri, seperti kurangnya pemahaman tentang diri sendiri dan kemampuan menghadapi tekanan, juga memperparah kondisi ini. Kondisi tersebut seringkali menimbulkan perasaan tidak cukup baik, ketakutan akan kegagalan, serta kecemasan mengenai masa depan. Namun, quarterlifecrisis tidak selalu berdampak negatif. Jika ditanggapi dengan refleksi dan strategi adaptif, fase ini justru dapat menjadi momentum untuk pengembangan diri. Santrock (2019) menjelaskan bahwa masa dewasa awal adalah tahap eksplorasi identitas, sehingga krisis yang muncul dapat memicu individu untuk lebih mengenal potensi, minat, dan tujuan hidupnya.
Agar dampak negatif quarterlifecrisis dapat diubah menjadi peluang positif, diperlukan strategi yang tepat. Pertama, menerima dan mengenali perasaan cemas adalah langkah awal untuk menghindari penumpukan stres. Dengan kesadaran diri, individu dapat memahami bahwa kegelisahan adalah bagian wajar dari proses menuju kedewasaan. Kedua, menetapkan tujuan realistis membantu mengurangi rasa gagal dan membangun motivasi bertahap. Hal ini sejalan dengan peluang untuk mengeksplorasi potensi diri. Ketiga, mengurangi perbandingan sosial dengan cara membatasi konsumsi media sosial dapat melindungi individu dari rasa tidak puas yang berlebihan, sehingga energi bisa difokuskan pada pengembangan diri. Keempat, mencari dukungan sosial dan profesional melalui teman, keluarga, atau konselor dapat menjadi sumber motivasi serta panduan menghadapi kebingungan. Terakhir, mengasah keterampilan baru baik dalam karier maupun kehidupan pribadi merupakan strategi untuk menjadikan krisis sebagai kesempatan tumbuh.
Dengan strategi tersebut, quarterlifecrisis bukan sekadar masa penuh tekanan, melainkan dapat menjadi fase reflektif yang membantu individu menemukan arah hidup. Dampak negatif seperti kecemasan dan rasa tidak berdaya dapat dikelola, sementara peluang untuk mengenali diri dan memperkuat resiliensi dapat dimanfaatkan. Dengan kata lain, quarterlifecrisis adalah tantangan yang, jika dihadapi dengan tepat, justru menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih terarah, matang, dan bermakna.
Sebagai closingstatement, sederhananya, kita itu sebenarnya bisa. Cuman banyak cemasnya saja.