Berawal dari lingkungan sederhana di Pabean, Cilegon, perjalanan hidup Ferdiyan adalah gambaran nyata bagaimana mimpi besar bisa tumbuh dari tempat kecil. Ia mengawali langkahnya di MTs Al-Khairiyah Karangtengah, sebuah madrasah yang mungkin tampak biasa dari luar, namun menyimpan kekuatan besar dalam membentuk karakter dan visi hidup santrinya.
Selama tiga tahun (2005–2008), MTs Karangtengah menjadi tempat di mana Ferdiyan mulai menyusun fondasi intelektual dan spiritualnya. Bukan hanya soal pelajaran di kelas, tetapi juga pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap ilmu, nilai, dan kehidupan. “MTs Al-Khairiyah Karangtengah adalah laboratorium awal yang membentuk cara pandang saya terhadap ilmu, nilai, dan kehidupan,” ujarnya mengenang.
Suasana belajar yang sederhana namun sarat makna, guru-guru yang mengajar dengan keikhlasan, serta lingkungan yang inklusif, memberi pengaruh mendalam. Di sanalah ia pertama kali merasakan bahwa pendidikan adalah jalan untuk menjadi manusia utuh, bukan sekadar individu yang pintar secara akademik. Madrasah itu mengajarkannya bahwa karakter, empati, dan semangat untuk berbagi ilmu jauh lebih penting dari sekadar nilai ujian.
Satu hal yang paling membekas baginya adalah bagaimana setiap bentuk pencapaian murid—kecil maupun besar—dirayakan dengan tulus. Hal ini menumbuhkan rasa percaya diri dan penghargaan atas setiap proses belajar yang dilalui. Dari sini pula, ia belajar bahwa pendidikan sejati adalah tentang memberi ruang bagi semua potensi berkembang.
Setelah menyelesaikan MA di tempat yang sama (2008–2011), Ferdiyan melanjutkan ke jenjang S1 di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (2011–2016). Mimpi-mimpinya terus membesar, dan dengan tekad serta kerja keras, ia berhasil meraih beasiswa untuk studi S2 di University of Leeds, Inggris (2020–2022), sebuah lompatan besar dari kelas-kelas sederhana di Karangtengah ke panggung akademik dunia.
Saat ini, Ferdiyan melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan aktif sebagai dosen di Sampoerna University serta peneliti di program pascasarjana. Di setiap ruang kuliah yang ia isi, ia membawa semangat yang sama: bahwa ilmu harus dirawat dengan nilai, dan pendidikan harus berdiri di atas fondasi kemanusiaan.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa titik awal bukanlah batas, melainkan landasan yang bisa membawa seseorang sejauh yang ia impikan. Bagi Ferdiyan, panggung dunia bukanlah tujuan akhir, tapi kesempatan untuk terus menebar ilmu, inspirasi, dan kebaikan—dengan akar yang tetap tertanam kuat di tanah Karangtengah.